Rieke: SBY Bohong, Rakyat Harus Tolak Kenaikan BBM!
Rieke Dyah Pitaloka (Seruu.com)

Jakarta, Seruu.com - Anggota Komisi IX DPR-RI, Rieke Dyah Pitaloka mengingatkan 13 hari lagi adalah keputusan kenaikan harga BBM. Salah satu argumen SBY, kenaikan tersebut adalah untuk menyelamatkan APBN supaya tidak jebol.

"Saya  menyerukan kepada seluruh rakyat Indonesia agar menolak kenaikan BBM, tolak BLT karena itu adalah muslihat agar subsidi dicabut, akibatnya SBY untung rakyat buntung!" tegas politisi PDIP ini kepada Seruu.com, Jumat (16/03/2012).

Ditambahkannya, Ada data yang tidak pernah SBY sampaikan kepada rakyat, hitungan yang sesungguhnya bahwa dengan tidak mengurangi subsidi dan tidak menaikan harga BBM sebetulnya APBN tidak jebol.

Rieke memaparkan data yang beliau kompilasi dari berbagai sumber, terutama dari para ekonom yang tidak bermahzab neolib, sebagai berikut:
- Indonesia menghasilkan 930.000 Barel/hari
- 1  Barel = 159 liter
- Harga Minyak Mentah = 105 USD per Barel
- Biaya Lifting + Refining + Transporting (LRT) = 10 USD per Barel = (10/159) x Rp.9000 = Rp. 566 per Liter
- Biaya LRT untuk 63 Milyar Liter = 63 Milyar x Rp.566,- = Rp. 35,658 Trilyun
- Lifting = 930.000 barel per hari, atau
             = 930.000 x 365 = 339,450 juta barel per tahun
- Hak Indonesia adalah 70%, maka = 237,615 Juta Barel per tahun
- Konsumsi BBM di Indonesia = 63 Milyar Liter per tahun, atau dibagi dengan 159
                            = 396,226 Juta barel per tahun
- Pertamina memperoleh dari Konsumen
     = 63 Milyar Liter x Rp.4500,-
     = Rp. 283,5 Trilyun
-  Pertamina membeli dari Pemerintah
     = 237,615 Juta barel @USD 105 x Rp. 9000,- = Rp. 224,546 Trilyun
-  Kekurangan yang harus di IMPOR
     = Konsumsi BBM di Indonesia – Pembelian Pertamina ke pemerintah = 158,611 Juta barel
     = 158,611 juta barel @USD 105 x Rp. 9000,- = Rp. 149,887 Trilyun

Menurutnya, setelah dihitung sedemikian rupa melalui data-data yang otentik, Rieke berkesimpulan :
1. Pertamina memperoleh hasil penjualan BBM premium sebanyak 63 Milyar liter dengan harga Rp.4500,- yang hasilnya Rp. 283,5 Trilyun
2. Pertamina harus impor dari Pasar Internasional Rp. 149,887 Trilyun
3. Pertamina membeli dari Pemerintah Rp. 224,546 Trilyun
4. Pertamina mengeluarkan uang untuk LRT 63 Milyar Liter @Rp.566,- = Rp. 35,658 Trilyun
5. Jumlah pengeluaran Pertamina Rp. 410,091 trilyun  
6. Pertamina kekurangan uang, maka Pemerintah yang membayar kekurangan ini yang di Indonesia pembayaran kekurangan ini di sebut “SUBSIDI”
7. Kekurangan yang dibayar pemerintah (SUBSIDI) = Jumlah pengeluaran Pertamina dikurangi dengan hasil penjualan Pertamina BBM kebutuhan di Indonesia
= Rp. 410,091 trilyun – Rp. 283,5 Trilyun
= Rp. 126,591 trilyun
8. Tapi ingat, Pemerintah juga memperoleh hasil penjualan juga kepada Pertamina (karena Pertamina juga membeli dari pemerintah) sebesar Rp. 224,546 Trilyun.
 *Catatan Penting: hal inilah yang tidak pernah disampaikan oleh Pemerintah kepada masyarakat
9. Maka kesimpulannya adalah pemerintah malah kelebihan uang, yaitu sebesar perolehan hasil penjualan ke pertamina – kekurangan yang dibayar Pemerintah (subsidi)
= Rp. 224,546 Trilyun – Rp. 126,591 Trilyun
= Rp. 97,955 Trilyun

"Artinya, APBN tidak jebol justru saya jadi bertanya, dimana sisa uang keuntungan SBY menjual BBM sebesar Rp. 97,955 Trilyun, itu baru hitungan 1 tahun. Dimana uang rakyat yang merupakan keuntungan SBY jual BBM selama 7 tahun kekuasaannya???"Punkas politisi yang akrab dipanggil Oneng ini.[Cesare]

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: star goldstar goldstar goldstar goldstar gold (47 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU