Dewi Aryani : Ide Premix Sah Saja Sepanjang Sumber Masalah Tetap Diatasi!
Dewi Aryani, Anggota Komisi VII DPR RI

Jakarta, Seruu.com - Anggota Komisi VII DPR RI Dewi Aryani menilai gagasan Wakil Menteri ESDM soal rencana pemerintah mengeluarkan produk bbm baru dgn merek Premix bagus-bagus saja sepanjang hal tersebut diikuti dengan langkah pembenahan di sektor hulu energi migas yang menjadi sumber krisis energi belakangan ini.

"Tapi saat ini, hal itu tidak akan bisa menjadi solusi jangka panjang kalau pemerintah tidak membenahi sektor hulu energi migas, sektor penerimaan negara dan renegosiasi bagi hasil serta bisa mengelola penerimaan dan pengeluaran negara dari sektor lain yang bisa lebih dihemat," paparnya dalam rilis yang diterima redaksi, Senin (09/4/2012).

Menurut politisi PDI Perjuangan tersebut ide Kementrian ESDM untuk mengeluarkan produk baru dimungkinkan jika pemerintah secara komprehensif sudah melakukan kajian dulu. "Sehingga tidak menjadikan pasar makin tak menentu,melainkan masyarakat bisa mendapatkan alternatif pilihan produk sesuai spesifikasi dan harga ekonomis pro rakyat tetap di subsidi oleh pemerintah," papar Dewi.

Ia menambahkan produk Premix yang rencananya akan dikeluarkan juga tidak boleh asal campuran pertamax dan premium. "Kalau seperti itu yang terjadi, jelas itu cara salah dalam rencana pengelolaan produk mix terkait BBM," tegasnya.

Lebih lanjut Dewi mengkritisi peran Pemerintah yang harus lebih dalam mengawasi alur distribusi dan penyaluran BBM bersubsidi. " Mengeluarkan premix hanya solusi jangka pendek. Tapi harus secara cerdas melihat peluang pasarnya dan juga kaitan dengan distribusi dan pengawasan oleh BPH Migas harus benar-benar ketat. Tidak bisa lagi ditoleransi apabila ada pihak-pihak yang secara sengaja memanfaatkan situasi ini hanya untuk keuntungan pribadi. Mafia harus diberantas tuntas dan serius, jika tidak semua langkah dan kebijakan akan berakhir percuma dan sia-sia," tandasnya.

Buat Dewi pemerintah tentunya dalam hal ini BPH Migas punya peran vital mengelola 4 penyalur dan yang paling sulit pasti mengatur Pertamina sebagai penerima kuota terbesar yaitu hampir 95%.

"Menurut saya jangan sampai posisi BPH hanya mediator saja tapi kekuasaan tetap di pertamina. Tidak fair menurut saya (jika itu yang terjadi). Salah satu indikasinya adalah penagihan billing ke Menkeu dari Pertamina hanya di hitung dari depot, bukan hitungan dari SPBU. Ini akal-akalan saja menurut saya. Billing system management harus di perbaiki dan ada equal treatment terhadap semua penyalur secara merata"," pungkas Dewi.

Sebelumnya Wamen ESDM mengeluarkan usulan produk baru diluar Premium yang disubsidi dengan Pertamax yang harganya melambung hingga menembus angka psikologis 10 ribu rupiah. Produk tersebut adalah Premix yang menurut Wamen bisa dijual di kisaran 7500 per liter.

Usulan tersebut muncul menghindari kekhawatiran publik akan imbas kenaikan Pertamax yang dinilai akan membuat masyarakat banyak yang beralih ke Premium karena selisih harga yang terpaut jauh hingg 6000 rupiah lebih. [musashi]

"Jika para pengguna Pertamax justru beralih ke Premix yang rencananya dijual Rp 7.200 per liter itu konsekuensi pilihan konsumen.sejauh pemerintah memang tetap memberikan subsidi tentunya premix bs jd salah satu alternatif.tp oktannya jg hrs berada pd keseimbangan spec yg diperlukan berbagai jenis kendaraan.jgn malah produk baru tp tdk melindungi produk kendaraan krn tdk spec minded", tandas Dewi.

Premix oke saja diteruskan tp dikaji dulu secara ekonomi, sosial politic dan juga logistic managementnya. Tdk bs semudah itu mengeluarkan produk baru tanpa adanya kajian dan survey pasar. Ini tdk bs dianggap remeh krn bbm adalah masuk kategori 'public value' yg hrs di kelola negara utk sebesar2 kepentingan publik.

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: star goldstar goldstar goldstar goldstar gold (1 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU