Harga Minyak Mentah Diprediksi Terus Menurun
Ilustrasi

Jakarta, Seruu.com - Analis dari PT Monex Investindo Futures Ariana Nur Akbar dalam risetnya, Senin (16/4/2012), mengatakan, tren penurunan harga minyak terjadi seiring dengan potensi tingkat pertumbuhan dua ekonomi besar, yaitu Cina dan Amerika Serikat, masih diragukan untuk melanjutkan penguatannya.

"Selain itu, hal ini juga dihambat oleh ketegangan antara Iran dan negara-negara Barat yang terus berlanjut terkait program nuklir yang dikembangkan Iran," ujar Ariana, Senin (16/4/2012).

Menurut Ariana, data ekonomi dari Cina dan AS membuat harga minyak mendapatkan potret yang suram dalam basis hariannya, bahkan mungkin dalam perkiraan mingguannya. Masalah lelang obligasi di Eropa yang masih belum menunjukkan perkembangan yang signifikan juga memberikan kontribusi terhadap lemahnya harga minyak mentah saat ini. "Tingkat pertumbuhan dunia yang melambat dan pemulihan perekonomian global membuat para investor menahan diri," katanya.

Di samping itu, Federal Reserve juga masih melakukan proses tarik ulur adanya pelonggaran kebijakan atau biasa disebut QE3. Ketidakjelasan sikap bank sentral AS ini akan memicu pesimisme bahwa kebijakan moneter ini masih jauh dari kenyataan.

Untuk pergerakan turunnya, ujar Ariana, kisaran support harga minyak mentah akan berada pada level 101,82 dolar AS hingga 101,47 dolar AS per barel. "Sedangkan untuk pergerakan naiknya, kisaran 'resistance' akan berada pada area 102,81 dolar AS dan 103.06 dolar AS per barel," katanya.

Sementara Bill O\'Grady, Chief Market Strategist Confluence Investment Management, seperti dikutip Bloomberg, Sabtu (14/4/2012) menilai pamor minyak makin suram karena pesimisme pasar terkait pertumbuhan ekonomi China, konsumen minyak terbesar kedua di dunia setelah Amerika Serikat. "Ekonomi China memang bukan terjun bebas, tapi tidak diragukan lagi bahwa mereka melambat," katanya.

Pertumbuhan ekonomi China berada di level terendah dalam tiga tahun. Ini pula yang mendorong Negeri Panda ini memangkas penyulingan minyak mentahnya sebanyak 3%, Maret lalu. Di sisi lain, produsen minyak terbesar Arab Saudi, berupaya menekan harga dengan menjamin bahwa stok yang ada masih cukup. "Kami melihat periode harga tinggi yang cukup lama, dan kami tidak senang akan hal itu," ujar Menteri Perminyakan Arab Saudi, Ali al-Naimi.

Perhitungan Bloomberg, Arab Saudi biasanya memproduksi 9,71 juta barel minyak per hari. Saat ini, Ali mengklaim pihaknya telah meningkatkan hingga 10 juta barel per hari. [mus]

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: (0 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU