Rencana Impor Listrik Lagi, PLN Diminta 2 Perusahaan Tambang Mineral Pasok Listrik Untuk Smelter
Ilustrasi kegiatan pertambangan (Istimewa)
Impor itu ada syaratnya sendiri dan sudah diatur. Dan listrik untuk smelter kita siap pasok, namun kita sesuaikan dengan situasi dan kondisi sistem kita - Bambang Dwiyanto

Jakarta, Seruu.com - Pembangunan smelter menjadi syarat mutlak pelaksanaan Permen 07 tahun 2012, sesuai dengan UU Minerba No 4 tahun 2009 semua pengusaha tambang mineral mempunyai smelter untuk menambah add value. Namun,  ketersediaan listrik menjadi kendala utama pembangunan smelter, menurut salah satu pengusaha nikel di daerah Kalimantan dan Maluku listrik begitu sulit didapat dan pemerintah belum bisa memenuhi itu. Bahkan ketersediaan batubara juga terbatas karena sebagian di ekspor.

Pertanyaan para pengusaha mineral tersebut mulai dijawab oleh Dirut PT PLN, Nur Pamudji pada Kamis (10/5/2012) lalu.

Menurutnya dengan Permen ESDM 07/2012 akan terjadi peningkatan penggunaan listrik di daerah pertambangan, dirinya menilai impor menjadi langkah yang akan dilakukan untuk mengantisipasi meningkatnya kebutuhan listrik bagi indutsri yang membangun pabrik pemurnian dan pengolahan bahan mineral tambang (smelter).

Hal ini dibenarkan oleh  Manajer Senior Komunikasi Korporat PLN, Bambang Dwiyanto. Kata Bambang,  ada dua isu yang berbeda yang akan dilaksanakan PLN, yaitu impor listrik dan melistriki infrastruktur untuk smelter. Namun impor tersebut harus memenuhi syarat yang telah diatur dalam Perpres. Sedangkan  untuk kerjasama dengan perusahaan tambang sendiri masih bersifat kerjasama bisnis, bukan bantuan murni yang dicanangkan pemerintah.

"Impor itu ada syaratnya sendiri dan sudah diatur. Dan listrik untuk smelter kita siap pasok, namun kita sesuaikan dengan situasi dan kondisi sistem kita", ucap Bambang saat dikonfirmasi Seruu.com, Senin (14/5/2012).

Bambang menuturkan saat ini sudah ada 2 perusahaan mineral yang telah menandatangani MOU dengan PLN untuk pasokan listrik, yaitu PT Bosowa dan Grup Modern.

"Kerjasama ini bisnis seperti biasa, mereka minta pasokan listrik, kami meninjau dan ada MOU lalu listrik kami sediakan," ucap Bambang.

Seperti disampaikan Nur Pamudji Kamis lalu, kebutuhan listrik untuk satu smelter setidaknya membutuhkan listrik 1.250 mega watt.[Ain]

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: (0 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU