Soelarno Witoro: Jangan Hanya Mineral Yang Diatur, Batubara Kita Juga Sudah Kritis
Pengamat pertambangan Soelarno Witoro (Foto: Ain/Seruu.com)

Jakarta, Seruu.com - Saat semua tengah terfokus pada Permen 07 ESDM yang mengatur pelarangan raw material untuk mineral dan dikenai 20% bea keluar bila mengekspor dengan berbagai syarat, pengamat pertambangan Soelarno Witoro mengimbau agar batubara juga diatur untuk ekspor.

Selama ini banyak yang menganggap cadangan batubara Indonesia melimpah, bahkan bisa untuk 100 tahun seperti yang disampaikan staf khusus KESDM Thobrani Alwi (21/3/12) lalu

“Cadangan batu bara kita sangat melimpah, Kanada, India dan Cina telah menggunakan 95% cadangan batu baranya, sementara Indonesia masih menggunakan 30%,” ungkapnya.

Berbeda dengan yang disampaikan mantan Sekretaris Direktorat Jenderal (Setdirjen) Minerba ini, Witoro mengatakan dalam prospek kebijakan yang dibuat untuk produksi 25 tahun ke depan batubara di Indonesia terlalu tinggi peningkatan produksinya hingga mengalami kritis dan hanya cukup untuk 15 tahun saja.

"Kita terlalu tinggi meningkatnya, harus ada pengendalian dari pemerintah. Kita juga butuh pengaturan seperti mineral karena cadangan kita hanya tinggal 15 tahun lagi. Kuncinya pemerintah harus menekan banyak perusahaan batubara agar mengendalikan eksplorasi terus menerus," tegas Witoro saat berbincang dengan Seruu.com, Sabtu (19/5/2012) siang tadi.

Selain itu menurutnya, salah satu kesulitan untuk peningkatan add value batubara belum ada teknologi yang proven dan practicable di Indonesia belum ada. Padahal dengan adanya add value untuk batubara royalti yang didapat-pun akan berbeda.

"Kalau sudah teknologi kan bisa menambah add value, dengan upgrading batubara yang low range 3% menjadi medium range 5%, perbedaan 2% ini sangat signifikan, bayangkan dari sekian juta dikalikan 2% yang range komposisinya katakanlah 200 juta x 2% sudah cukup banyak kan? Dan diharapkan saat meningkat range nya royaltinya juga berbeda", jelasnya.

Cadangan batubara 100 tahun, lanjut Witoro itu adalah resourcess, bukan  cadangan. Resourcess baru diduga dan tidak bisa diduga jumlahnya.

"Kalau yang benar-benar bisa dihitung baru cadangan. Tp resourcess tidak dan ada kendala lagi, kalau masuk hutan lindung apa mau ditambang? Kalau dia msuk kawasan hutan konservatif kapan itu mau ditambang? kalau kita bicara recovery penambangan butuh ketelitian penghitungan plus minus dan lainnya," tuturnya.

Watoro menambahkan, resourcess berpotensi menjadi banyak. Tapi jika tidak segera dikembangkan untuk infrastruktur suatu saat batubara Indonesia akan stuck.[Ain]

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: star goldstar goldstar goldstar goldstar gold (1 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU