Dalam Diversifikasi Gas Pengusaha CNG Harus Berani Ambil Resiko
Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini (Foto: Ain/ Seruu.Com)

Jakarta, Seruu.com - Setelah memberikan pernyataan bahwa Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) akan segera membuat patokan harga gas nasional (Indonesia Gas Price / IGP)  untuk mencegah harga gas yang bervariasi.

Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini mengatakan kesiapan ESDM untuk diversivikasi gas, Ia menyatakan supply gas dari sisi hulu sudah disediakan 37 MM dari berbagai KKKS dan disediakan 50 MM dari KL, artinya pemerintah sudah mengusahakan menyediakan gas dan sekarang tinggal bagian middle pembuat CNG nya dari hulu ke hilir yang masuk dan tinggal lari. Hal ini disampaikannya saat dihubungi oleh Seruu.com Sabtu (16/6/2012).

"Kenapa saya bilang berlari karena pemerintah sedang mengimpor konverter kit untuk mobil-mobilnya. Supaya nanti bersamaan terjadi dari Menperin adakan peralatannya, dan pihak tengah yang akan merubah dari gas menjadi CNG juga harus jalan", ucapnya.

Namun masalahnya saat ini pengusaha gas seringkali selalu mempertanyakan jaminan kepada pemerintah, menurut Rubi ini seharusnya tidak terjadi karena pengusaha bagian daripada race dalam berbisnis. Jangan kemudian selalu jaminan diminta nanti pembeliannya darimana, siapa dan lainnya.

Karena jika seperti itu Indonesia akan kalah dengan India dan Thailand dimana para pengusaha yang besar dan punya FSRU mereka kan tidak bisa produksi gas lebih tapi mereka membangun, mencari dari luar negeri dan manapun.

"Ini barangnya sudah ada kalau mereka nanti membuat alat dia masih meminta jaminan market dsb, wah kalah sama pedagang kaki lima. Kaki lima kan tidak dijamin siapa pembelinya, mereka mau masa pengusaha gas nggak mau, itu program jangka menengah kita tentang pengadaan convert kit, saat beli mobil baru sudah ada converternya itu jangka menengahnya. Yang jangka pendeknya itu dipasang pada mobil yang lama kemudian supply kebutuhan dari gas meningkat", tandasnya.

Rudi Rubiandini berpendapat pengusaha CNG tidak perlu mengkhawatirkan harga converter kit yang berkisar 10 - 15 juta, karena untuk mengeluarkan 10 sampai 15 juta itu jumlah kecil.

"Orang sekali ngebor bisa 1 juta dolar di sisi hulu, jadi kalau 10 sampai 15 juta dolar rasa- rasanya kok tidak ada masalah. Orang dari hulu aja beresiko aja dan mereka berhasil", imbuhnya lagi.

Ia juga berpikiran bahwa konversi itu sulit pada saat dimana disparitas harga terlalu tinggi, mengingat kemarin saat berkesempatan untuk menaikkan harga BBM gagal, energy alternatif pun akhirnya jadi susah berkembang. Seperti bio fuel tidak bisa kalahkan BBM subsidi, matahari  bahkan energy alternatif lain juga masih tidak bisa kalahkan BBM subsidi.

Sementara untuk Filipina yang punya geotermal tidak sebesar indonesia, Itali, begitu juga di negara Eropa Matahari juga jalan yang punya matahari tidak sebanyak Indonesia. Jadi permasalahannya BBM yang terlalu rendah harganya, jelas saja kuota pasti bisa lewat dari 40 juta KL.

"Sekarang di atas 41 juta KL, jelaslah 4 tahun lalu aja di atasnya. Kan nggak mungkin berkurang, wong manusianya bertambah, wong tingkat kesejahteraan manusianya juga bertambah, masa kuota berkurang. Masalah kuota menurut saya tidak perlu dibatasi masyarakat kan haus baru mau merdeka nih, baru mau menikmati kesenangan jadi jumlah atau volume kebutuhan harus dipenuhi seberapa btuhnya cuma balik lagi harganya jangan dibuat seperti itu". [Ain]

KOMENTAR SERUU