Jampidsus Pastikan Proyek Bioremediasi Chevron Fiktif

Jakarta, Seruu.com - Kejaksaan Agung menyatakan proyek bioremediasi atau pemulihan tanah bekas eksplorasi PT Chevron Pasific Indonesia di Riau dari hasil uji tanah di laboratorium diketahui positif atau proyek itu fiktif. "Dari hasil laporan laboratoriumnya, ternyata positif," kata Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Andhi Nirwanto di Jakarta, Jumat (03/8/2012).


Ia menegaskan, hasil penelitian laboratorium itu mendukung sekali untuk proses pembuktian dari jaksa di persidangan nanti.  Di bagian lain, ia menyebutkan tim penyidik sampai sekarang masih berkoordinasi dengan Badan Pemeriksa Keuangan dan Pembangunan (BPKP) guna mengetahui adanya kerugian negara dari tindak pidana korupsi itu.


"Tim penyidik masih rapat koordinasi dengan BPKP dalam rangka penghitungan kerugian negara. Hasilnya belum dilaporkan ke saya," katanya.


Sebelumnya, penyidik sudah menetapkan tujuh tersangka dalam kasus tersebut, yakni Endah Rubiyanti, Widodo, Kukuh, Alexiat Tirtawidjaja dan Bachtiar Abdul Fatah dari PT CPI.  Dua orang lagi yakni Direktur perusahaan kontraktor PT GPI Riksi dan Dirut PT SJ Herlan.


Kasus tersebut bermula dari perjanjian antara Badan Pelaksana Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) dan Chevron yang salah satunya mengatur tentang biaya untuk melakukan pemulihan lingkungan (cost recovery) dengan cara bioremediasi.


Bioremediasi merupakan penormalan tanah setelah terkena limbah minyak dalam proses eksplorasi, dan proyek tersebut berlangsung sejak 2006 sampai 2011.  Di dalam pelaksanaannya, CPI telah menunjuk dua perusahaan untuk pelaksanaan bioremediasi, yakni PT Green Planet Indonesia (GPI) dan PT Sumigita Jaya (SJ).


Namun, pelaksanaan tidak ada alias fiktif, padahal anggaran untuk bioremediasi mencapai angka 23,361 juta dolar AS dan diajukan ke BP Migas serta sudah dicairkan hingga negara dirugikan sekitar Rp200 miliar.


Penyidik sudah melakukan uji laboratorium sampel limbah di Pusarpedal KLH di Serpong, yang pada akhirnya tidak mampu melakukan karena tidak memiliki alat dan sumber daya manusia terhadap sampel tanah terkontaminasi limbah minyak bumi tersebut.


Sebelumnya diberitakan, PT Chevron Pacific Indonesia mengaku siap menjalani proses audit terkait bioremediasi yang diduga sebagai bentuk penyelewengan proyek.


"Kami siap melakukan proses audit terkait bioremediasi karena tujuan program tersebut jelas untuk memenuhi syarat pengelolaan lingkungan yang baik," kata Manajer Bidang Komunikasi Chevron Dony Indrawan saat buka bersama di Jakarta, Selasa (31/8).


Dony menjelaskan persengketaan atau keluhan-keluhan soal bioremediasi yang ditujukan kepada Chevron juga terkait dengan Badan Pelaksana Kegiatan Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas).


Bioremediasi merupakan salah satu teknologi pengurangan polutan, yakni mengurai limbah minyak mentah dengan bantuan mikroorganisme yang dapat meghasilkan enzim-enzim untuk memodifikasi polutan beracun dengan mengubah struktur kimia polutan tersebut. Dia menjelaskan pihaknya siap menjalani proses yang mulai dari audit, mediasi hingga arbitrase. [ms]
 

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: star goldstar goldstar goldstar goldstar gold (1 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU