ESDM Minta Parlemen Segera Penuhi Tambahan Kuota BBM Subsidi 4 juta KL, Efendi Simbolon: Ini Nggak Jelas, Siapa Yang Mau Tanggung Rp18 Triliun?
Anggota Komisi VII Efendi Simbolon (Foto: Nurul Ainiyah/Seruu.com)

Jakarta, Seruu.com - Konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi tahun 2011 diperkirakan sebanyak 41,7 juta KL namun dengan bertambahnya mobil sebanyak 1 juta unit dan motor 8 juta unit pada tahun 2012 serta peningkatan kegiatan ekonomi masyarakat maka diperkirakan tahun ini konsumsi BBM subsidi akan mencapai 45,8 juta KL.

Dengan kuota BBM subsidi 40 juta KL tahun ini sesuai dengan APBNP 2012 maka pemerintah ESDM dalam program jangka pendek ini segera meminta parlemen menyetujui penambahan kuota BBM bersubsidi tahun 2012 sebanyak 4 juta KL, yaitu naik dari pagu yang 40 juta menjadi 44 juta KL untuk tahun 2012 karena diperkirakan kuota akan habis pada bulan Oktober ini.

"Sebetulnya 40 juta KL diharapkan bisa tercapai bila tahun 2012 harga BBM naik jadi Rp6000/lt, namun sayang harga tidak jadi naik dan pagu tetap 40 juta KL tidak bisa dicapai," ucapnya.

Sementara itu, 2 hari lalu tepatnya Senin (10/9/20 12) Efendi Simbolon anggota Komisi VII DPR RI dengan tegas menyampaikan tambahan kuota 4 juta KL BBM subsidi bellum disampaikan surat resmi oleh ESDM dan ia memperkirakan tidak akan menyetujui tambahan kuota tersebut.

"Ini nggak jelas kenapa kita harus tanggung, 4 juta KL hampir Rp18 triliun siapa yang tanggung. Ini kesalahan tidak bisa dianulir gitu saja, sudah terjadi anomali dan  ketidaksingkronan. Buka dong, diulas coba lakukan audit betul nggak itu distribusi yang dilakukan pertamina, masa tiap bulan 9 selalu kita harus over kuota," tegas Efendi.

Bahkan Efendi menilai over kuota yang selalu   dihubungkan dengan kenaikan harga BBM adalah message dari IMF atau Bank dunia yang selama ini berada di belakang pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Maka dari itu ia meminta kepada pemerintah agar tidak meminta  penambahan kuota bila sudah mewacanakan penghematan tapi tetap muncul angka 46 juta KL.

"Saya sangat prihatin, ini realnya dan ini tidak realistis jika dibandingkan dengan sarana dan prasarana umum yang tidak dibangun oleh negara. Ada kolaborasi terang-terangan ini, bagaimana meliberalkan BBM. Kami tidak sependapat bagaimana rakyat bisa konsumsi BBM dengan daya jangkau yang cukup, sedangkan di satu sisi membiarkan pertumbuhan otomotif kemudian tidak membangun sarana transportasi umum yang menjadi alternatif pilihan rakyat," jelasnya. [AIN]

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: (0 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU