Daeng: BBM Indonesia Dikuasai Korporasi Asing Akibatkan Stabilitas Negara Hilang
Salamuddin Daeng (Foto: Nurul Ainiyah/Seruu.com)
Akibat dari penguasaan BBM ditangan segelintir korporasi asing (85% dari produksi minyak mentah nasional) menyebabkan harga BBM dikendalikan oleh mekanisme pasar, yang menyebabkan harga BBM menjadi mahal dan semakin tidak terjangkau oleh kalangan Industri nasional dan masyarakat secara luas. Juga menurunnya produksi nasional minyak mentah - Salamuddin Daeng

Jakarta, Seruu.com - Pemerintah Energi Sumber Daya dan Mineral  kini tengah beteriak keras mengajukan kuota tambahan 4 juta KL untuk tahun 2012 kepada Komisi VII DPR RI, kuota BBM subsidi sendiri diperkirakan akan habis bulan Oktober sementara untuk wilayah Jakarta bulan September ini jatah BBM subsidi juga habis.

Kelangkaan dan tingginya harga BBM yang nantinya bisa saja terjadi dinilai Direktur IGJ, Salamuddin Daeng merupakan  masalah besar dalam ekonomi Indonesia akibat diserahkannya penguasaan dan pengelolaan BBM kepada korporasi asing yang telah menyebabkan hilangnya kemampuan negara dalam mengntrol stabilitas energi nasional.

"Akibat dari penguasaan BBM ditangan segelintir korporasi asing (85% dari produksi minyak mentah nasional) menyebabkan harga BBM dikendalikan oleh mekanisme pasar, yang menyebabkan harga BBM menjadi mahal dan semakin tidak terjangkau oleh kalangan Industri nasional dan masyarakat secara luas. Juga menurunnya produksi nasional minyak mentah," jelas Daeng kepada Seruu.com, Senin (17/9/2012) hari ini.

Turunnya produksi minyak mentah ini menurut Daeng juga dikarenakan perusahaan asing lebih berorientasi dalam mencari uang dan bukan memproduksi minyak mentah. Akibatnya negara harus mengimpor minyak mentah dari negara lain, melalui tangan perusahaan swasta.

"Anggaran negara akhirnya tergerus, kemampuan negara untuk membiayai subsidi dan ekonomi rakyat semakin rendah. Selain itu negara semakin kehilangan kemampuan dalam menjaga ketersediaan, dikarenakan faktor ketersediaan ini sangat ditentukan oleh segelintir korporasi," ungkapnya.

Kini pemerintah semakin kehilangan kemampuan untuk mengontrol stabilitas energi karena semakin tipisnya anggaran negara yang tertelan oleh hutang luar negeri dan korupsi yang merajalela di tanah air dalam beberapa waktu terakhir. Akhirnya pemerintah dengan sekuat tenaga berusaha menaikkan harga energi untuk meningkatkan pendapat negara demi membiayai kekuasaan yang terancam bangkrut. [Ain]

KOMENTAR SERUU