Palembang, Seruu.com - BP Migas meminta Polri memutus mata rantai pencurian minyak mentah dengan cara melubangi pipa (ilegal tapping) di Kabupaten Musi Banyuasin yang marak sejak tahun 2008.

"Solusi dengan cara penindakan tegas yakni memutuskan mata rantai yang sudah sistematis ini, dari pelaku di lapangan, di tempat penampungan sementara, di tempat penampungan akhir, hingga pengguna (penadah) yang menjual ke dalam atau luar negeri," kata Kepala Perwakilan Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) Setia Budi, di Palembang, Sabtu (06/10/2012).

Ketika ditanya pemantauan kasus pencurian minyak, Setia Budi menyatakan, BP Migas telah berkoordinasi dengan Polri dan Kementerian Hukum dan HAM sejak kasus ilegal tapping marak di Muba dalam empat tahun terakhir.

"Bahkan BP Migas sudah membuat nota kesepakatan dengan aparat terkait, tapi tetap saja kasus pencurian marak. Kami tidak bisa menyebutkan siapa yang salah, tapi tidak dapat memungkiri jika aparat terkesan menutup mata," katanya.

Ia menjelaskan, BP Migas telah mengutarakan kepada pihak bewajib mengenai modus dalam pencurian minyak itu, seperti berpura-pura memanfaatkan sumur minyak tua atau membuka kilang ilegal.

"Pemanfaatkan sumur tua (beroperasi di bawah tahun 1960) memang diatur dalam undang-undang nomor 26 tahun 2007, tapi jadi alat untuk melakukan pencurian dengan cara menjadikan tempat penampungan sementara," ujarnya.

Ia melanjutkan, aparat diminta mengawasi penggunaan sumur-sumur tua itu mengingat produksi yang dihasilkan melebihi batas normal.

"Sudah sepatutnya dicuriga jika sumur tua memproduksi ratusan barrel mengingat bisa menghasilkan 10 barrel saja sudah bagus," katanya. [ndis]

Peraturan Komentar