IKT Beberkan Data ITRI Untuk Perkuat dugaan Penjarahan Timah Oleh Malaysia di Bangka
Wirtsa Firdaus, Ketua IKT (Ikatan Karyawan Timah) (Foto: Nurul Ainiyah/Seruu.com)

Jakarta, Seruu.com - Pada 1 oktober 2012 kemarin seluruh Karyawan PT Timah (Persero) Tbk menggelar apel akbar, bertepatan dengan hari Kesaktian Pancasila, di tugu Proklamasi, Jakarta. IKT (Ikatan Karyawan Timah) tak hanya menunjukkan keprihatinan dengan aksi tersebut atas intervensi Malaysia dalam mengusai tembaga Indonesia tapi juga mengharapkan semua pihak tak hanya dari pemerintah untuk bersama memerangi pencurian timah yang telah lama diduga dilakukan Malaysia ini.

Berdasarkan data ITRI (International Technologi Research Institute) yang menyebutkan bahwa sejak tahun 2008 - tahun 2010 Malaysia telah menghasilkan logam timah sebesar 128.000 ton, sementara produksi bijih timah Malaysia hanya sebesar 7.490 ton pada kurun waktu yang sama. Penjarahan biji timah ini tentu telah berpotensi merugikan negara sebesar Rp21 triliun.

"Bangsa kita sedang alami krisis mineral karena ada intervensi asing dalam eksploitasi mineral yang sudah berjalan hampir 10 tahun, PT Timah memiliki 400 ribu hektar lahan dan swasta (MSC Group yaitu Malaysia smelting Corp dan Pt Koba Tin) hanya 5% sampai 3% tapi produksi mereka kalahkan PT Timah," tegas Wirtsa Firdaus, Ketua IKT ketika ditemui di Jakarta, Minggu (7/10/2012) kemarin .

Wirtsa mengaku memang ada isu yang beredar di luar bahwa PT Timah melakukan penambangan yang tidak sesuai dengan prosedur sehingga produksi menurun namun pihaknya membantah dengan tegas dan menyatakan PT Timah sebagai perusahaan tambang yang diutamkan adalah sustainable sehingga menjalankan penambangan yang baik dan benar agar saat industri tersebut sudah maju tetap memiliki cadangan biji timah.

"Kita berhitung dan punya data dari ITRI, modus mereka sangat rapi dan di Bangka hanya ada satu BUMN yaitu PT Timah dan PT Koba Tin perusahaan swasta yang investornya asing yaitu Malaysia, juga ada 30-an perusahaan swasta kecil. Jadi kuat indikasinya kalau Malaysia logamnya dari kita, karena pada 2010 bisa produksi logam sejumlah 45 ribu ton tapi mereka hanya eksploitasi biji di Malaysia 2 ribu ton dan 6 ribu ton dari perusahaan yang disini berarti ada 37 ribu ton lagi ini yang nggak jelas, gimana mereka bisa produksi sebanyak itu," paparnya.

Pihaknya menyampaikan seperti yang telah ditetapkan dalam peraturan ekspor bijih timah di Indonesia bahwa ekspor logam hanya boleh dilakukan dengan kadar di bawah 99,85%, karena jika di bawah kadar ini maka dikategorikan sebagai crude tin yang  tidak boleh diekspor.

"Harusnya yang 37 ribu ton itu masuk di Indonesia kalau nggak akibatnya kita rugi di royalti, juga pengolahan lingkungan paskah tambang," tutup Wirtsa. [Ain]

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: (0 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU