Carut Marut Illegal Mining Timah Bangka Babel
kepala dinas Pertambangan Provinsi Bangka Belitung, Aldan Djalil (Foto: Nurul Ainiyah/ Seruu.Com)

Pangkal Pinang, Seruu.com – Menjamurnya TI darat (illegal mining) dalam golongan tambang skala kecil timah di Babel sejak dijadikannya timah menjadi komoditi utama perekonomian Babel kini menjadi boomerang bagi lingkungan. Bagaimana tidak kerusakan hutan,lahan pertanian, infrastruktur jalan, pemukiman bahkan lahan reklamasi yang beralih fungsi kembali menjadi pertambangan tampak jelas trerlebih bila dilihat dari pantauan udara.


 

Kondisi ini memang miris karena Babel tidak hanya dikenal sebgai propinsi baru yang kaya akan timah tapi juga begitu potensial dengan wisata bahari, namun semenjak pertambangan timah menjadi sumber pendapatan utama tanpa memperhatikan aspek lingkungan, Babel terancam menjadi propinsi yang gersang dengan kerusakan lingkungan.

Bukan hanya kerusakan lingkungan yang harus diterima bumi Babel sebagai konsekuensi dari maraknya illegal mining, tapi juga semakin menurunnya cadangan timah karena illegal mining tidak pernah bisa diketahui berapa jumlah produksi, yang pastinya juga tidak bisa diprediksi berapa reserved yang masih tersisa.

Kondisi ini tentu sangat mempengaruhi penurunan produksi timah Babel karena lahan pertambangan-pun juga semakin berkurang, dikatakan kepala dinas Pertambangan Provinsi Bangka Belitung,  Aldan Djalil saat ditemui Seruu.com pada 25 Oktober 2012 lalu produksi timah Babel menurun tiap tahunnya, bila pada tahun 2006-2007 bisa menghasilkan 120 ribu ton pertahun kini hanya 80 ribu ton bahkan hanya 60 ribu ton.

“Kalo melihat data di kita, produksi kita memang justru turun yang semula 120 ribu ton pertahun dari 2006/2007, sekarang terus menurun sampai 80 ribu ton. Bahkan pekan terakhir ini 60 ribu ton. Karena memang kondisi pertambangan kita agak menurun lahan dan aktivitasnya,juga karena ada aturan-aturan yang lebih mengikat”, jelas Aldan.

Pengamat pertambangan timah Bambang Herdyansah minimnya pengetahuan warga Babel tentang pertambangan juga menjadi indicator semakin meningkatnya TI, bahkan  menurutnya selama ini seolah-olah banyak yang menganggap pertambangan legal meski tanpa dokumen lengkap. Dan diperburuk dengan ketidaktegasan pemerintah dalam menjalankan peraturan sebagai regulator yang seharusnya bisa mengendalikan illegal mining.

“Seringkali kecolongan makanya harus tingkatkan pengawasan, karena alasan mereka (pelaku pertambangan ilegal) tidak mengerti, juga ada iming-iming pembayaran yang menjanjikan dan singkat juga selisih harga dibanding harga PT Timah. Belum lagi diperburuk oleh pemerintah yang tidak jalankan regulatornya”, tandas Bambang(24/10/12).

Disinggung membludaknya TI juga berbagai jenis illegal mining ini, Aldan kembali menepis dan menyatakan ini bukan sepenuhnya tugas Distamben melainkan harus ada koordinasi dengan bertbagai sektor karena pihaknya tidak bisa bergerak sendiri. Ia berpendapat dinas pertambangan hanya mengatur pelaksanaan pertambangan yang semestinya ada sosialisasi kepada pelaku-pelaku tambang, aparat, kepala desa karena masyarakat harus diberitahu secara langsung.

“Kami di profesi tentunya lebih banyak arahnya kepada pembinaan dan pengawasan. Karena konteks langsung dilapangan adalah kabupaten kota ini yang mencari mana saja daerah-daerah yang terjadi penjarahan dan ilegal mining”, tuturnya.[Ain]

Data Mining Kep. Babel:

 

No

Region

Army IT

TI Floating

Kp. Sip

Collectors

Smelter

1.

Pangkalpinang

97th

510

-

4

14th

2.

Bangka

185

760

12th

8

9

3.

Ba West ngka

5000

1050

30th

5

1

4.

Central Bangka

506

293

-

13th

2

5.

South Bangka

665

840

11th

5

2

6.

Belitung Parent

226

-

-

5

6

7.

East Belitung

890

-

1

4

-

Number

 

 

54th

44th

34th

IT or Illegal Data Mining Per the first half of 2012

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: (0 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU