Rudi Rubiandini Sindir Dua Pengamat Miliki Nasionalisme Sempit
Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Rudi Rubiandini (Foto: Ain/Seruu.com)
Pertanyaannya, beranikah kita gunakan uang kita semuanya untuk cari barang baru di tempat yang kosong tadi, oleh karena itu kita harus sedikit bersabar itu nggak mudah. Jangan mengatasnamakan emosi atau nasionalisme sempit seolah-olah itu barang enak tinggal ngambil, itu barang berat, - Rudi Rubiandini

Jakarta, Seruu.com - Pada bulan Desember tahun 2011 pemerintah telah menetapkan pembagian saham di blok East Natuna dimana PT Pertamina (Persero)  mendapatkan jatah 35%, Esso Natuna (anak usaha ExxonMobil) mendapat saham 35%, Total E&P Activities Petrolieres mendapat 15%, sedangkan Petroleum Nasional Berhad (Petronas) menguasai 15%. Namun akhirnya Petronas mundur dan posisinya digantikan PTT Exploration and Production (PTT EP) berasal dari Thailand.

Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Rudi Rubiandini mengaku, pemerintah memang kini memprioritaskan pengembangan proyek Blok East Natuna yang berpotensi 46 triliun kaki kubik (tcf) dibandingkan blok Arun yang aset cadangannya sebesar 17 triliun kaki kubik (tcf) dan blok Tangguh 11 triliun kaki kubik (tcf), apalagi blok Mahakam yang dinilainya hanya 2 triliun kaki kubik (tfc). Bahkan ia mengklaim Kurtubi dan Marwan berbohong saat menyebut potensi reserved blok Mahakam lebih dari itu.


“Segede apa itu East Natuna, sekarang ada Mahakam yang ketika habis nanti 2017 nggak sampai 2 triliun (kaki kubik (tfc) – red). jangan percaya sama Kurtubi, maupun Marwan bahwa kita punya 12 triliun (kaki kubik (tfc) – red), jangan percaya itu bohong itu hanya kira-kira tinggal 2 triliun (kaki kubik (tfc) – red). Jadi kalau dilihat prioritas mana yang harus saya urus dulu, East Natuna dulu Mahakam nanti,” ungkap Rudi kepada wartawan ketika ditemui di kantor BPH Migas, Jakarta, Kamis (27/12/12).


Dalam pembagian saham telah diajukan beberapa insentif diantaranya, perpanjangan masa kontrak, dari sebelumnya 30 tahun menjadi 50 tahun. Selain itu juga besaran bagi hasil 38:62 dari biasanya 70:30, "first tranche petroleum" (FTP) dari sebelumnya 10-20 persen menjadi 0 persen, "investment credit" 150 persen, dan "tax holiday" 5 tahun. Rudi berpendapat setelah tahun 2017 bagi blok Mahakam sendiri harusnya pendapatan negara lebih besar karena semua infrastruktur sudah disediakan negara.


“Kalau Mahakam tinggal teruskan saja, tapi kita berharap sebagai negara pendapatan negara harus lebih baik dibanding sebelum 2017 karena sharing gas 70:30, tapi kalau sudah 2017 jangan 70:30 dong kan pipa milik negara lewat cost recovery, peralatan, sumur-sumur sudah punya negara masa negara dapat 70 juga naiklah, dan ini yang harus dibicarakan,” tuturnya.


Rudi menambahkan bila ada sisa yang menjadi bagian kontraktor, maka bisa dipilah misalnya ketemu sharing gas 80:20, minyak  90:10 dan nanti yang 10 berapa persen Pertamina, berapa persen Total namun bukan untuk mengelola yang 2 triliun (kaki kubik (tfc) – red) tapi lapangan sekitar yang masih virgin (kosong) belum ada minyaknya belum dibor itu perlu biaya dan itu milyaran dolar.


“Pertanyaannya, beranikah kita gunakan uang kita semuanya untuk cari barang baru di tempat yang kosong tadi, oleh karena itu kita harus sedikit bersabar itu nggak mudah. Jangan mengatasnamakan emosi atau nasionalisme sempit seolah-olah itu barang enak tinggal ngambil, itu barang berat,” tandasnya.

Untuk mengingat kembali, blok Mahakam yang memiliki cadangan gas besar, sampai 27 triliun kaki kubik (tcf) yang dikelola dua kontraktor asing yakni Total E&P Indonesie (Prancis) dan Inpex Corporation (Jepang), sejak pada 31 Maret 1967. Kontrak berjangka 30 tahun sampai 1997. Selanjutnya, diperpanjang 20 tahun sampai 2017. Rencananya, Total EP mendesak adanya tambahan kontrak sampai 2042. [Ain]

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: (0 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU