Refleksi KESDM: Sektor Batubara
Foto: Ilustrasi

Jakarta, Seruu.Com - Dipantau dari data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) harga rata-rata batu bara acuan Indonesia tahun ini turun 19,36% menjadi US$ 95,48 per ton dibandingkan tahun lalu US$ 118,4 per ton. Sedangkan harga batu bara acuan untuk Desember 2012 tercatat US$ 81,75 per ton, naik tipis dibandingkan November sebesar US$ 81,44 per ton.

Tahun ini penurunan mencapai 27,5% dibandingkan harga Desember 2011 yang disebabkan masih membanjirnya pasokan batu bara dari negara-negara baru yang masuk ke pasar Asia. Seperti dikemukakan Singgih Widagdo, Ketua Sumber Daya Ikatan Ahli Geologi Indonesia pemerintah harus melakukan konsolidasi terhadap produksi batu bara untuk bisa mempengaruhi harga di pasar regional.

Hal ini dinilai akan sangat mempengaruhi suplai di pasar Asia Pasific yang diujung pada pengaruh terhadap harga. Tidak hanya itu, pemerintah juga mulai harus mendorong tingkat penyerapan batu bara di dalam negeri sehingga harga batu bara tidak bergantung dengan harga ekspor sehingga bisa punya pasar yang cukup
sehingga ketika over suplai di luar mereka masih punya pasar.

Tren penurunan harga batubara ini ternyata mengancam penerimaan negara, bagaimana tidak bisa dipastikan penerimaan dari sektor pertambangan batubara juga akan menurun seiring dengan rendahnya harga batubara. Meski demikian Wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini menganggap ini adalah siklus normal dan bagian dari bisnis. Dan dengan berkurangnya penerimaan negara maka harus diimbangi dengan penghematan pengeluaran negara.

Dari pantauan ESDM dalam tiga bulan pada awal 2012, HBA lebih rendah dibanding periode yang sama pada tahun lalu. Tren penurunan HBA nampak tajam sejak November 2011 akibat berlebihnya produksi dalam negeri, terlihat jika pada 2011 harganya masih menyentuh kisaran di atas US$100 per ton tapi kini menurun sampai di bawah US$100, yakni angka terbawah selama 2 tahun terakhir. Tidak hanya perekonomian dunia, indicator lain penyebab turunnya harga batubara adalah kelebihan produksi. Selama Januari-Maret 2012 produksi batubara dalam negeri mencapai 102 juta ton. Bahkan jumlah ini melebihi produksi pada kurun waktu yang sama pada tahun lalu sebanyak 90 juta ton.

Adapun rencana produksi batu bara Kementerian ESDM pada 2012 sekitar 332 juta ton, direncanakan untuk ekspor 250 juta ton dan domestik sekitar 82 juta ton. Sementara itu, realisasi produksi batu bara sampai Juli 2012 adalah sekitar 217 juta ton. Adapun untuk ekspor sekitar 171 juta ton, dan untuk keperluan domestik 54 juta ton. Tujuan utama ekspor batubara Indonesia masih didominasi oleh China, India, Korea Selatan dan Jepang. Indonesia merupakan pemasok kebutuhan batu bara dunia dengan proporsi 30%. Pada permintaan domestik juga mengalami penurunan.  Permintaan batu bara didalam negeri untuk periode semester pertama tahun ini mengalami penurunan sebesar 10% menjadi 45 juta ton.

“Realisasi produksi batu bara semester 1 tahun 2012 dilaporkan sebesar 184 juta ton, atau telah mencapai 54% dari target produksi tahun ini yang sebesar 340 juta ton. Jumlah produksi tersebut juga mengalami kenaikan sebesar 5% dibandingkan semester pertama tahun lalu. Sedangkan dari sisi ekspor, justru mengalami penurunan sebesar 19% menjadi 137 juta ton pada periode tersebut”, jelas Thamrin Sihite.

Seperti tertulis pada Keputusan Menteri ESDM No. 2934 Kl30/MEM/2012 tentang Penetapan Kebutuhan dan Persentase Minimal Penjualan Batu Bara untuk Kepentingan Dalam Negeri pada 2013. Perkiraan kebutuhan batubara untuk kepentingan dalam negeri (end user domestic) bagi pemakai batubara tahun 2013 adalah sebesar 74.320.000 ton. Dengan rincia yaitu 60,49 juta ton untuk kebutuhan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU); 0,74 juta ton untuk metalurgi; serta untuk kebutuhan pupuk, semen, tekstil dan pulp sebesar 13,09 juta ton.

Maka sesuai dengan kewajiban DMO 2013 Dirjen Minerba Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Thamrin Sihite menegaskan yang minimal penjualan batu bara di dalam negeri (domestic market obligation) oleh badan usaha pertambangan batu bara dipatok 20,30% dari produksi 366 juta untuk tahun 2013. Jumlah itu menurun dibandingkan persentase minimal penjualan 2012 sebesar 24,72%. Persentase DMO 2013 tersebut berasal dari perkiraan produksi batu bara tahun depan sebesar 366.042.287 ton. Jumlah ini berasal dari 45 perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), satu perusahaan BUMN, dan 28 perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) Batu Bara.

Tidak hanya bagi PKP2B, berdasar rekonsiliasi pertambangan kewajiban DMO juga akan dikenakan pada IUP operasi produksi batubara dengan produksi batubara 1 juta ton dan bila memenuhi kriteria lainnya. Hal ini dilakukan demi mengamankan PLTU di seluruh Indonesia khusunya PLN, agar jangan sampai saat

Ditjen Minerba menunjuk IUP untuk DMO tetapi justru tidak siap yang akhirnya menimbulkan masalah di dalam negeri. Adapun syarat bagi IUP operasi produksi tersebut harus C n C sehingga memiliki kepastian hukum. Dengan target pencapaian DMO tahun 2013, selama ini PKP2B berskala besar melakukan complain, mengapa hanya PKP2B yang dikenai DMO berdasar keputusan pemerintah demi membuat kepastian bagi PLTU yang ada di Indonesia. Sdan bila mereka tidak memenuhi DMO dan lebih memilih ekspor akan ada sanksi yaitu dikuranginya produksi sebesar 50%.

“Selama ini untuk DMO data yang ada di kita PKP2B, kita tahu produksi mereka dan juga end usernya, kebutuhan dalam negeri berapa, semua pemegang PKP2B harus utamakan DMO kita lihat presentasi kita dan berapa yang dibutuhkan. Jangan sampai PLN diikut sertakan untuk tender ternyata IUP-nya abal-abal tidak jelas lokasinya dan IUP-nya nggak ada, tender bisa menang tapi nggak bisa supply dengan C n C kita tahu mereka produksi kita tahu mereka punya amdal juga penerimaan negara. Kita ada revisi karena sudah ada rekonsiliasi IUP, kita sudah tahu operasi batubara maka kita putuskan mereka jadi DMO. Ini Harus dipenuhi jadi sanksinya amat besar saat dia tidak penuhi DMO dia lebih ekspor, kita kenakan tahun depannya produksi dikurangi 50% makanya ada transfer kuota. Karena kualitas dari suatu PKP2B belum tentu terserap dari suatu PLTU kualitasnya,” tutur Thamrin kepada Seruu.com, Rabu (28/11/2012). [Ain]

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: (0 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU