Kebutuhan DMO Batubara Tahun 2022 Bisa Mencapai 200 Juta Ton/Tahun
Batubara (Istimewa)
Kebutuhan batubara di dalam negeri diatur melalui DMO (domestic Market Obligation) menjadi sangat penting, apabila tidak maka pengalaman seperti bagaimana minyak bumi akan terulang. Saat ini kita masih menjadi eksportir nomor pertama, namun suatu saat akan menjadi net importer - Soelarno Witoro

Jakarta, Seruu.com - Dipantau dari data Direktorat Jenderal Mineral dan Batu Bara Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) harga rata-rata batu bara acuan Indonesia tahun 2012 turun 19,36% menjadi US$ 95,48 per ton dibandingkan tahun lalu US$ 118,4 per ton. Sedangkan harga batu bara acuan untuk Desember 2012 tercatat US$ 81,75 per ton, naik tipis dibandingkan November sebesar US$ 81,44 per ton.

Sementara itu hingga awal tahun 2013 ini penurunan mencapai 27,5% dibandingkan harga Desember 2011 yang disebabkan masih membanjirnya pasokan batu bara dari negara-negara baru yang masuk ke pasar Asia. Disampaikan pengamat pertambangan Soelarno Witoro harga batu bara akan mengalami pemulihan dan hanya tinggal menunggu waktu saja.

Statistik menunjukkan kebutuhan batu bara dunia meningkat pesat, 4-5 tahun lalu masih berkisar 4 milyar ton, namun peredaran batubara dunia 7,7 milyar ton pada tahun 2011  yang akan ada peningkatan sekitar 4,5% per tahun karena batubara termasuk pembangkit energi yang relatif lebih murah dibandingkan dengan sumber energi primer lainnya. Pada tahun 2013 ini terkait adanya kenaikan ekspor, menurut Soelarno tergantung pada Pemerintah dalam mengendalikannya.

“Saat ini cukup dapat dikontrol dengan baik adalah produksi PKP2B, namun untuk IUP dengan berkoordinasi dengan Provinsi masih perlu terus dikembangkan. Tujuannya tentunya agar penyediaan kebutuhan dalam negeri,” kata Soelarno ketika dihubungi semalam, Kamis (03/01/12).

Berdasarkan program percepatan pembangunan pembangkit listrik 10.000 MW Tahap I dan 10.000 MW Tahap II, tidak kurang dari 13.000 MW yang dibangun bergantung kepada batubara. Bahkan ia menilai pada tahun 2022 diperlukan pembangkit 3,5 gigawatt dan 65% diantaranya digerakan oleh batubara.

Artinya diperlukan batu bara sekitar 130 juta ton/tahun. Ini belum termasuk untuk kebutuhan pabrik semen maupun industri lain yang akan terus berkembang. Maka kebutuhan batubara pada tahun 2022-2025 bisa mencapai 200 juta ton pertahun.

“Kebutuhan batubara di dalam negeri diatur melalui DMO (domestic Market Obligation) menjadi sangat penting, apabila tidak maka pengalaman seperti bagaimana minyak bumi akan terulang. Saat ini kita masih menjadi eksportir nomor pertama, namun suatu saat akan menjadi net importer,” tandasnya.

Seperti tertuang dalam Keputusan Menteri ESDM No. 2934 Kl30/MEM/2012 tentang Penetapan Kebutuhan dan Persentase Minimal Penjualan Batu Bara untuk Kepentingan Dalam Negeri pada 2013. Perkiraan kebutuhan batubara untuk kepentingan dalam negeri (end user domestic) bagi pemakai batubara tahun 2013 adalah sebesar 74.320.000 ton. Dengan rincian yaitu 60,49 juta ton untuk kebutuhan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU); 0,74 juta ton untuk metalurgi; serta untuk kebutuhan pupuk, semen, tekstil dan pulp sebesar 13,09 juta ton.

Maka sesuai dengan kewajiban DMO 2013 Dirjen Minerba Kementrian Energi dan Sumber Daya Mineral Thamrin Sihite menegaskan yang minimal penjualan batu bara di dalam negeri (domestic market obligation) oleh badan usaha pertambangan batu bara dipatok 20,30% dari produksi 366 juta untuk tahun 2013.

Jumlah itu menurun dibandingkan persentase minimal penjualan 2012 sebesar 24,72%. Persentase DMO 2013 tersebut berasal dari perkiraan produksi batu bara tahun depan sebesar 366.042.287 ton. Jumlah ini berasal dari 45 perusahaan pemegang Perjanjian Karya Pengusahaan Pertambangan Batubara (PKP2B), satu perusahaan BUMN, dan 28 perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) Batu Bara. [Ain]

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: (0 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU