APPBI: Sudah Saatnya PLN Produksi Listrik Berbiaya Murah!
Foto Ilustrasi
pabila pemerintah tetap memproduksi listrik dengan menggunakan BBM maka harga jual listrik akan setinggi ini, ditambah harga BBM cenderung meningkat. Penggunaan BBM subsidi sangat menyedot anggaran negara - Handaka Santosa

Jakarta, Seruu.com - Tidak sekedar keberatan dengan kenaikan Tarif Tenaga Listrik (TTL) untuk pelanggan bisnis besar diatas 2.000 KVA, bahkan menilai Pemerintah inkonsisten dengan menaikkan TTL untuk golongan tersebut dengan total sebesar 27,5%. Asosiasi Pengelola Pusat Perbelanjaan Indonesia (APPBI) juga mendesak PT PLN (Persero) agar memproduksi listrik dengan pembiayaan yang lebih murah.
 

Seperti diketahui, saat ini PLN masih  menggunakan Bahan Bakar Minyak (BBM) yang tentunya menimbulkan biaya produksi yang tinggi. Seperti diutarakan Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat APPBI Handaka Santosa mengatakan, akan sangat bijak apabila PLN memproduksi listrik dengan harga yang lebih murah terutama dengan menggunakan batubara, atau gas serta panas bumi dengan meninggalkan penggunaan BBM jenis solar.

"Apabila pemerintah tetap memproduksi listrik dengan menggunakan BBM maka harga jual listrik akan setinggi ini, ditambah harga BBM cenderung meningkat.  Penggunaan BBM subsidi sangat menyedot anggaran negara," kata Handaka di kantor Dirjen Kelistrikan (DJK) Jakarta, Rabu (9/1/2013).

Usulan konversi ke energi lain seperti batubara dan gas menurutnya sudah seringkali disampaikan oleh masyarakat kepada PLN, agar bisa menghemat juga mengendalikan ketergantungan terhadap konsumsi BBM. Sehingga PLN bisa lebih efisien dan menjual listrik dengan harga ekonomis.dibandingkan harus menggunakan BBM sebagai bahan bakar produksi listrik.

Namun dengan kenaikan TTL cukup tinggi ini secara otomatis akan berpengaruh pada pengusaha perbelanjaan (Mall) yang memiliki tujuan, mewujudkan kota-kota besar di Indonesia sebagai kota tujuan wisata belanja dan budaya yang bertaraf internasional.

"Kami berharap kenaikan TTL ini tidak akan memberatkan kami sebagai pengelola pusat perbelanjaan," ucap Handaka.

Untuk mengingat kembali, berdasarkan laporan anggaran tahun 2009/2010 karena banyaknya penggunaan jenset, negara dirugikan Rp 3 triliun lebih. Seperti dicontohkan Effendi Simbolon Wakil Ketua Komisi VII DPR RI pernah terjadi di Aceh yang banyak menggunakan diesel. Penggunaan BBM sebagai energi primer pembangkit listrik di 2011 juga telah merugikan negara Rp37 triliun.[Ain]

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: (0 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU