Terkait Cadangan Blok Mahakam, SKSP Migas Minta Kurtubi Keluarkan Data
Kurtubi (Dok.Seruu.com)
Ngebor harus investasi, berhasil atau tidak kita nggak tahu. Kok bisa ada 12,5 TCF itu cadangan apa, karena potensi belum bisa dibilang cadangan masih sumber daya. Tidak ada ada jaminan, tapi bukan terus kita ngebornya ngawur semua kita pelajari di sisi resevoarnya, itu jauh di kilo bawah sedangkan kita mengintepretasikan dengan ilmu geofisika dan nggak ada yang menjamin itu. Kalau mau dibuktikan ya atau tidak baru bisa dikatakan cadangan - Hadi Prasetyo

Jakarta, Seruu.com – Direktur Eksekutif Indonesian Resources Studies, Kurtubi mengatakan jika Blok Mahakam memiliki cadangan gas terbukti sebesar 27 triliun cubic feet (TCF). Kurtubi juga memproyeksikan setelah berakhirnya kontrak, gas Blok Mahakam hanya tersisa 2,03 tcf dan 52,2 juta barel minyak. Padahal cadangan gas Blok Mahakam sebenarnya tidak sekecil angka yang dipublish pemerintah ke publik. Ia memperkirakan, cadangan gas yang tersisa bisa sekitar 12,5 TCF.

“Penurunan produksi di Blok Mahakam hanya strategi agar tidak ada perusahaan migas yang berminat mengelola blok tersebut. Cadangan di Blok Mahakam itu masih sangat besar," kata Kurtubi kepada Seruu.com, Jumat (11/1/13).

Kepala Divisi Humas, Sekuriti, dan Formalitas SKSP Migas, Hadi Prasetyo menegaskan bahwa yang disampaikan Indonesian Resources Studies mengenai cadangan gas tersisa sebesar 12,5 TCF di blok Mahakam ini hanya P2 (cadangan potensial). Maka menurutnya harus disamakan bahasa yang disebut dengan cadangan, P2 atau cadangan potensial adalah masih berupa sumber daya dan belum terbukti.

Dari data yang ada, Hadi berpendapat cadangan yang terbukti (P1) dan cadangan yang potensial (P2)   sepertinya tidak lebih dari 5 TC, sehingga saat cadangan potensialnya dinyatakan besar tetap harus dibuktikan agar menjadi P1 dengan cara memgebor.

“Ngebor harus investasi, berhasil atau tidak kita nggak tahu. Kok bisa ada 12,5 TCF itu cadangan apa,  karena potensi belum bisa dibilang cadangan masih sumber daya. Tidak ada ada jaminan, tapi bukan terus kita ngebornya ngawur semua kita pelajari di sisi resevoarnya, itu jauh di kilo bawah sedangkan kita mengintepretasikan dengan ilmu geofisika dan nggak ada yang menjamin itu. Kalau mau dibuktikan ya atau tidak baru bisa dikatakan cadangan,” jelas Hadi kepada Seruu.com, Jumat (11/1/13).

Lebih lanjut kata Hadi, setelah dibor saat di sumur tersebut terbukti baru bisa dikatakan cadangan terbukti. Dan ada aturannya saat sumur tidak boleh disebut sebagai P1, yaitu ketika di luar sumur kira-kira jaraknya lebih dari 1,5 km setengah ada cadangan lain maka disebut sebagai P2 sedangkan yang boleh dijual sebagai kemungkinan pemasukan hanya P1, sedangkan dari P2 kemungkinan ada yang bisa memasukkan tapi diambil 50% nya saja.

“Yang disampaikan Indonesia Resources Studies 12,5 TCF ini hanya P2, karena jika bukan P2 kita harus lakukan pemboran untuk menarik yang kategori resource tadi menjadi kategori cadangan. Yang kategori cadangan tadi dikategorikan lagi P1, P2, dan P3. Mestinya Kurtubi tampilkan data, saya nggak tahu maksud dia, tolong jangan berikan pengertian yang keliru, ini potensi bukan cadangan,” tandasnya.

Tidak kali ini saja pihak pemerintah menepis banyaknya jumlah cadangan di blok Mahakam, bahkan Desember tahun lalu wakil Menteri ESDM Rudi Rubiandini menuding Kurtubi dan Marwan bohong saat keduanya menyampaikan cadangan di blok yang dikelola dua kontraktor asing yakni Total E&P Indonesie (Prancis) dan Inpex Corporation (Jepang).

“Segede apa itu East Natuna, sekarang ada Mahakam yang ketika habis nanti 2017 nggak sampai 2 triliun (kaki kubik (tfc) – red). jangan percaya sama Kurtubi, maupun Marwan bahwa kita punya 12 triliun (kaki kubik (tfc) – red), jangan percaya itu bohong itu hanya kira-kira tinggal 2 triliun (kaki kubik (tfc) – red). Jadi kalau dilihat prioritas mana yang harus saya urus dulu, East Natuna dulu Mahakam nanti,” ungkap Rudi kepada wartawan ketika ditemui di kantor BPH Migas, Jakarta, Kamis (27/12/12).[Ain]

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: (0 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU