Greenpeace: Pemerintah Banyak Kepetingan di Sektor Batubara
Arif Fiyanto Team Leader Climate and Energy Campaigner Greenpeace saat memberikan keterangan kepada wartawan, Senin (4/2/2013) di Jakarta (Foto: Ain/Seruu.com)
Sebagai ilustrasi saja, seratus orang terkaya di Indonesia, semuanya terkait dengan sektor indistri ekstraktif terutama industri mineral dan batu bara. Bisa dicek dari yang paling kaya nomor satu sampai yang terkaya nomor seratus itu semuanya punya koneksi pertambangan batu bara, termasuk didalamnya ada politikus dan penguasa - Arif Fiyanto

Jakarta, Seruu.com – Perubahan iklim yang cukup ekstrem belakangan ini yang disebut Greenpeace SEA Indonesia sebagai dampak eksternalitas dari batu bara bagi manusia juga lingkungan, terlebih jika dibakar atau diolah kembali, untuk kepentingan bahan bakar akan menjadi bahan bakar terkotor dan termahal didunia.

Yang berkontribusi sebesar 69 persen terhadap gas rumah kaca dan perubahan iklim secara menyeluruh, tentu menunjukkan bagaimana pengelolaan sumber daya alam yang salah dan tidak berpihak pada keadilan ekologis bagi masyarakat dan lingkungan.

“Ini tentu saja dimungkinkan karena pengambil kebijakan kita punya konflik kepentingan. Bagaimana mungkin kebijakan ini akan menelurkan kebijakan-kebijakan yang pro terhadap masyarakat dan lingkungan dengan mengurangi ketergantungan dan ekploitasi batu bara, sementara mereka justru punya kepentingan di sektor batubara," tegas Arif Fiyanto Team Leader Climate and Energy Campaigner Greenpeace kepada Seruu.com saat ditemui di Jakarta, Senin, (4/2/2013).

Dengan fatalnya dampak yang didapatkan dari pemakaian batu bara, Arif mengkritisi dan mengimbau bahwa seharusnya pemerintah segera menghentikan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap bahan bakar fosil ini, terutama batu bara dan segera beralih energi yang terbarukan.

Bahkan tingginya angka ekspor batu bara ia klaim atas dorongan mafia energi, tak ayal menurutnya Presiden SBY pernah mengatakan bahwa kita dikelilingi oleh mafia energi.

“Sebagai ilustrasi saja, seratus orang terkaya di Indonesia, semuanya terkait dengan sektor indistri ekstraktif terutama industri mineral dan batu bara. Bisa dicek dari yang paling kaya nomor satu sampai yang terkaya nomor seratus itu semuanya punya koneksi pertambangan batu bara, termasuk didalamnya ada politikus dan penguasa,” jelasnya.

Melengkapi statementnya, Arif memaparkan sebesar 500 juta ton batu bara akan disumbangkan oleh perusahaan-perusahaan Kaltim seperti Prima Coal, Adharo, dan Berau Coal.

“Jadi mereka akan meyumbang lebih dari 85 persen, menurut perhitungan yang kami susun dalam laporan kami,” tandasnya.[Ain]

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: (0 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU