Wah, Ini Paparan Cadangan Blok Mahakam Laporan IRESS VS SKK Migas
Blok Mahakam (Istimewa)

Jakarta, Seruu.com - Dalam petikan isi laporan Indonesia Resources Study (IRESS) bersama sejumlah elemen lainnya terhadap Menteri Energi Sumber Daya Mineral Jero Wacik, Wakil Menteri ESDM Susilo Wiroutomo, dan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini kepada Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Terkait kasus rencana perpanjangan kontrak Blok Mahakam dijelaskan: "Permintaan pemeriksaan dan pengusutan ini sejalan dengan nota kesepahaman (MoU) antara BP MIGAS`dan KPK yang ditandatangani di Gedung KPK pada 14 November 2011 yang lalu. Dalam MoU antara lain disepakati penyusunan kajian bersama pengawasan dan pengendalian kegiatan usaha hulu migas, pelatihan dan pertukaran informasi, serta tata kelola usaha migas yang baik. MoU juga dimaksudkan untuk meminimalisasi potensi korupsi di sektor migas melalui tindakan pencegahan. Oleh sebab itu, memperhatikan sikap dan pernyataan yang dibuat ketiga pejabat Kementerian ESDM tersebut terkait Blok Mahakam yang mengarah kepada kerugian negara, dan telah beralihnya tugas dan fungsi BP Migas kepada SKK Migas, maka sudah selayaknya KPK memeriksa dan mengusut ketiga pejabat tersebut", demikian petikan laporan surat ke KPK yang didapat Seruu.com dari Direktur Eksekutif IRESS Marwan Batubara.

Dalam laporan tersebut juga dijelaskan berdasarkan penjelasan BP Migas (sebelum dibubarkan), cadangan tersisa Blok Mahakam pada 2010 adalah sebesar 13,7 tcf (triliun cubic feet). Dengan asumsi laju ekstraksi gas sekitar 0,6 tcf/tahun (sesuai data produksi Mahakam BP Migas, 2000 MMSCFD pada 9/2012), maka pada 2012 cadangan gas yang tersisa menjadi [13,7 tcf  - (2 tahun x 0,6 tcf/tahun)] = 12,5 tcf. Oleh sebab itu, jika tingkat ekstraksi/pengurasan gas dipertahankan pada level 2000 MMSCFD, maka pada awal tahun 2017, cadangan yang tersisa adalah: [12,5 tcf - 4 tahun x 0,6 tcf/tahun)] = 10,1 tcf. Dengan demikian, cadangan Blok Mahakam yang tersisa pada 2017 adalah 10,1 tcf. Perhitungan lain tentang besarnya cadangan Mahakam IRESS peroleh dari sumber di BUMN dan nilainya hampir sama dengan data BP Migas (lihat Lampiran 1).

Jika diasumsikan harga jual gas adalah US$ 12/MMBtu, maka nilai ekonomis Blok Mahakam (diluar biaya eksploitasi) pada 2017 adalah US$(10,1 x 1012  x 1000 Btu x $12/106 Btu) = US$ 121,2 miliar. Namun, jika cadangan minyak 192 juta barel seperti perkiraan sebuah sumber di Pertamina juga diperhitungkan, maka dengan asumsi harga rata-rata minyak US$ 95/barel, potensi pendapatan dari minyak Blok Mahakam adalah US$ (192 x 95) = US$ 18,24 miliar. Dengan demikian, potensi total pendapatan kotor migas Blok Mahakam pada saat kontrak berakhir Maret 2017 adalah US$ (121, 1 + 18,24) miliar = US$ 139,34 miliar, atau lebih dari Rp 1300 triliun!

"Seandainya dikatakan Rudi Rubiandini, ini tinggal 2 TCF, ini kebohongan kenapa blok yang masih diatas 8 TCF dibilang cuman 2 TCF. Supaya nanti diperpanjang karena tinggal sedikit, itu maksud mereka. Ini kebohongan oleh profesor yg perlu diusut. Dimana bilang 2 TCF, ini lebih dari 8 TCF, dari kajian ini bisa dibuktikan. Yg penting kita harus ada keberpihakan, SKK Migas bohong!," tegas Marwan kepada Seruu.com di Jakarta, Rabu (13/2/2013).

Sebagai perbandingan, pada Selasa (12/2/2013) kemarin SKK Migas melalui berita tertulis yang disampaikan kepada wartawan dengan judul "Data dan Fakta Seputar Blok Mahakam," menjelaskan:

"Menanggapi beberapa berita yang terus dihembuskan oleh beberapa pengamat terkait dengan perpanjangan Blok Mahakam maka dirasakan perlu meluruskan data dan fakta yang ada," demikian disampaikan oleh Gde Pradnyana, Sekretaris Satuan Kerja Khusus Migas (SKKMIGAS).

Sebagaimana diketahui, kontrak bagi hasil blok Mahakam ditandatangani tahun 1967, kemudian diperpanjang pada tahun 1997 untuk jangka waktu 20 tahun sampai tahun 2017. Kegiatan eksplorasi yang dilakukan pada tahun 1967 menemukan cadangan minyak dan gas bumi di Blok Mahakam tahun 1972 dalam jumlah yang cukup besar. Cadangan (gabungan cadangan terbukti dan cadangan potensial atau dikenal dengan istilah 2P) awal yang ditemukan saat itu sebesar 1,68 miliar barel minyak dan gas bumi sebesar 21,2 triliun kaki kubik (TCF). Dari penemuan itu maka blok tersebut mulai diproduksikan dari lapangan Bekapai pada tahun 1974.

Produksi dan pengurasan secara besar-besaran cadangan tersebut di masa lalu membuat  Indonesia menjadi eksportir LNG terbesar di dunia pada tahun 1980-2000. Kini, setelah pengurasan selama 40 tahun, maka sisa cadangan 2P minyak saat ini sebesar 185 juta barel dan cadangan 2P gas sebesar 5,7 TCF. Pada akhir maka kontrak tahun 2017 diperkirakan masih menyisakan cadangan 2P minyak sebesar 131 juta barel dan cadangan 2P gas sebanyak 3,8 TCF pada tahun 2017. Dari jumlah tersebut diperkirakan sisa cadangan terbukti (P1) gas kurang dari 2 TCF.

"Jadi informasi yang disampaikan seolah-olah sisa cadangan gas pada tahun 2017 sebesar 10,1 TCF dan sisa cadangan minyak sebesar 192 juta barel jelas tidak mempunyai dasar," jelas Gde Pradnyana.

Sebagaimana diketahui, Kontraktor Kontrak Kerja Sama yang bekerja disana saat ini di Blok Mahakam, yaitu TOTAL yang berpartner dengan INPEX 50%-50%, telah menginvestasikan setidaknya US$ 27 miliar atau sekitar Rp 250 triliun sejak masa eksplorasi dan pengembangannya telahmemberikan penerimaan Negara sebesar US$ 83 miliar atau sekitar Rp.750triliun.

Masalah perpanjangan blok Mahakam sangat erat kaitannya dengan upaya untuk menjamin dan memaksimalkan penerimaan Negara. Seandainya pemerintah bermaksud memperpanjang kontrak blok Mahakam, maka pemerintah pasti akan meminta kenaikan bagi hasil yang lebih banyak lagi dari kontrak sebelumnya.

"Sisa cadangan yang ada plus fasilitas produksi yang sudah sepenuh diberikan cost recovery harus dianggap sebagai equity pemerintah sehingga split bagi hasil yang semula 70:30 untuk gas dan 85:15 untuk minyak harus dinaikkan secara signifikan untuk mengkompensasi equity pemerintah tersebut", imbuh Gde.

Sebagaimana diketahui, saat ini Pemerintah masih menimbang-nimbang siapa yang akan ditunjuk sebagai operator blok tersebut, baik opsi memperpanjang kontrak dengan perubahan split dan perubahan komposisi participating interest, maupun opsi menyerahkan operatorship keperusahaan Nasional, yaitu Pertamina. Gde menegaskan bahwa:

"Menteri Jero Wacik adalah orang yang sangat nasionalis, beliau pasti memperhitungkan agar opsi yang dipilih dapat memberikan manfaat yang terbesar bagi kepentingan bangsa dan Negara".[Ain]

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: (0 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU