Rudi: Operator Dilihat Dari Kemampuan Dalam Manajemen dan Operasi
Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini (Foto: Ain/Seruu.com)
Kalau saya punya bus, saya 60% yang lain 30% dan lainnya 10%. Selama dia jago nyetir saya biarkan dia lama meski 10%, itu cuma nyetirnya aja. Jadi walau Pertamina masuk nggak tentu, kan kita kalau sama-sama membeli mobil dengan presentasi seperti tadi, naik sama-sama ke mobil dulu baru kita tentukan siapa yang nyetir - Rudi Rubiandini

Jakarta, Seruu.com - Seperti yang diperkirakan Menteri Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Jero Wacik dalam penyampaiannya di Rapat Kerja dengan Komisi VII DPR, Senin (18/2/13) kemarin. Kemampuan perusahaan nasional termasuk PT Pertamina (Persero) untuk mengelola Blok Mahakam di Kalimantan Timur hanya sebesar 40%. Sehingga pada tahun 2017 nanti  pengelolaan di Blok Mahakam, kira-kira memiliki rasio 40% adalah Pertamina dengan Pemda atau perusahaan swasta nasional. Dan Total E&P Indonesie dan Inpex Corporation sebesar 60% dari 100%.

Dengan estimasi pembagian pengelolaan lapangan Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini menyatakan penunjukan operator nantinya belum tentu Pertamina, karena operator tolak ukurnya adalah dari capability dalam management dan operation.

"Kalau saya punya bus, saya 60% yang lain 30% dan lainnya 10%. Selama dia jago nyetir saya biarkan dia lama meski 10%, itu cuma nyetirnya aja. Jadi walau Pertamina masuk nggak tentu, kan kita kalau sama-sama membeli mobil dengan presentasi seperti tadi, naik sama-sama ke mobil dulu baru kita tentukan siapa yang nyetir," jelas Rudi memberikan analogi kepada wartawan ketika ditemui seusai pelantikan di Jakarta sore kemarin, Selasa (19/2/13).

Rudi menegaskan pihaknya bukan dalam domain memberikan tekanan tetap operator lama yang mengelola nantinya atau dipindah ke operator baru, SKK Migas hanya memberikan data ke Kementrian ESDM bahwa situasinya, cadangannya, dan juga biaya yang dibutuhkan.

Sementara untuk opsi transisi antara 3 sampai 5 tahun pengelolaan untuk Pertamina, Rudi mengatakan opsi tersebut misalnya sekalipun Pertamina hari pertama langsung "nyetir", apakah 5 tahun dulu untuk awal karena ada  alasannya.

"Dari sisi Pertamina ada waktu untuk take over, dan dari Total masih ada komitmen jual gas sampai 2022 jadi pas kalau dia masih bisa", imbuhnya.

Lebih lanjut kata Kepala SKK Migas ini, ada komitmen lainnya ketika Total  mengembangkan South Mahakam dan lainnya, "Uang itu baru kembali kira-kira sampai tahun 2020-an jadi dia juga harus menjaga investasi yang harus ia tanamkan sekarang pasti kembali. Kalau 2017 diputus, nanti ada hitung-hitungan yang belum kembali dan sebagainya ribet memang tapi silahkan saja bisa diatur cara perhitungannya," pungkasnya.[Ain]

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: (0 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU