Ini Paparan Kepala SKK Migas Perlunya Kolaborasi Dengan Total E&P
Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini (Foto: Ain/Seruu.com)
Perlu dilakukan kolaborasi dengan asing, mana mungkin pakai uang sendiri, kita tidak punya uang segede itu walaupun punya tidak untuk bermain-main dengan eksplorasi, kita harus punya kolaborasi - Rudi Rubiandini

Jakarta, Seruu.com - Dengan cadangan terbukti di Blok Mahakam seusai masa kontrak Total E&P Indonesie habis pada tahun 2017 hanya 2 TCF, Kepala SKK Migas Rudi Rubiandini menungkapkan perlunya dilakukan eksplorasi lain di lapangan Migas tersebut yang tentunya membutuhkan dana cukup besar. Mengingat tidak ada cadangan pasti di blok Mahakam, yang ada hanya cadangan potensial atau probable.

"Cadangan pasti nggak ada, adanya probable tapi itu harus pakai duit, dan kita belum tahu pakai duit donasinya siapa. Terpaksa kita menggandeng asing. Kita bergandengan dengan orang asing itu memang baru sekarang, sejak jaman dahulu kala tahun 60-an sudah ada, contohnya Chevron," kata Rudi ketika ditemui di Jakarta sore kemarin, Selasa (19/2/13)

2 TCF yang artinya bernilai sekitar US$ 20 miliar telah dikatakannya membutuhkan waktu 20 tahun kontrak migas untuk mendapatkan produksi sebesar itu. Tapi untuk bisa mengangkat US$ 20 miliar tersebut dari perut bumi,  diperlukan dana investasi mencapai Rp 80 triliun.

"Kalau cuma 2 triliun hanya untuk mengembangkan 20 tahun terlalu kecil, seperti yang saya sending data kemarin.  Kenapa pemilihan harus ada pihak asing,  bukan hanya supaya 2 triliun bisa dijalankan, kalau itu siapa saja juga bisa tetapi kita menghendaki ekspansi ke tempat-tempat lain yaitu eksplorasinya," paparnya.

Ekspansi dengan eksplorasi di wilayah lain, lanjutnya, tidak mungkin memakai uang dari bank di Indonesia. Karena tidak mungkin dilakukan, meskipun mampu pasti bukan untuk "bermain-main" dalam eksplorasi.

"Perlu dilakukan kolaborasi dengan asing,  mana mungkin pakai uang sendiri,  kita tidak punya uang segede itu walaupun punya tidak untuk bermain-main dengan eksplorasi, kita harus punya kolaborasi," ujar Rudi.

Dengan kolaborasi ini, bukan berarti juga tetap Total yang menjadi operatorshipnya, "Terserah siapa operatornya, cuma bahwa kehadiran Total tetap dibutuhkan, katanya kalau ntar Pertamina uang tinggal cari, kenapa cari uang Total sudah ada uangnya kenapa harus repot-repot cari kan di sebelahnya ada Total," pungkas mantan Wakil Menteri ESDM ini.[Ain]

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: (0 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU