Dewi Aryani: Penghematan BBM Tak Sekedar Pengurangan Subsidi
Dewi Aryani. (Dok. Seruu.com)

Jakarta, Seruu.com - Anggota Komisi IX DPR RI, Dewi Aryani mengatakan bahwa penghematan Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak hanya sekedar pengurangan subsidi saja yang menyebabkan wacana penghematan BBM yang tidak berjalan selama ini.

Dewi Aryani justru menilai selama ini pemerintah belum bisa membuat skala prioritas penataan pembangunan terutama bagaimana menempatkan energi sebagai sektor paling strategis (leading sector) sebagai mesin penggerak roda pembangunan.

"Bertahun-tahun pemerintah hanya berkutat membahas soal pengurangan subsidi BBM dalam APBN, seolah-olah rakyat yang boros dan menyatakan pengurangan bahkan (rencana penghapusan subsidi yang jelas melanggar konstitusi) sebagai satu-satunya langkah penghematan energi," kata Dewi Aryani saat dihubungi Seruu.com, Jumat (18/07/2014).

Jika kita arif dan bijak, lanjutnya, hendaknya segera di analisa berbagai sektor yang selama ini mengkonsumsi energi (transportasi, perdagangan, industri, pertambangan, rumah tangga dan berbagai sektor pendukung lainnya). Pasalnya, semua sektor tersebut hampir dipastikan menggunakan energi (BBM dan listrik).

Melihat kondisi tersebut, Dewi Aryani mempertanyakan, apakah pemerintah sudah menempatkan energi sebagai indikator utama dalam penyusunan kebijakannya? Diriya mengambil contoh, jika melihat salah satu sektor yaitu transportasi, selain fasilitas tranportasi umum yang belum memadai, produksi mobil-mobil berbahan bakar bensin juga makin masif.

"Seharusnya sebaliknya, sektor ini mendapat prioritas berbagai pengurangan, misalkan dibatasinya produksi dan penjualan mobil berbasis bensin, mengembangkan industri mobil berbahan bakas gas dan listrik, tentu dengan secara simultan pemerintah segera memperbaiki sektor publik yang lebih manusiawi, nyaman dan dapat melintasi sudut-sudut pergerakan perekonomian dan kegiatan keseharian masyarakat di pasar, perkantoran, sekolah, rumah sakit,dan lainnya," imbuh dia.

Politisi PDI Perjuangan ini menegaskan bahwa pogram penghematan energi secara nasional juga harus melibatkan masyarakat. Para birokrat harus memberi contoh bagaimana penghematan dilakukan, tidak hanya bicara hemat saja.

Sementara, tambahnya, energi baru terbarukan juga harus segera dijadikan primadona di negeri sendiri mengingat sumber energi ini paling banyak variannya di Indonesia. Keseriusan pemerintahan baru ke depan dalam membenahi sektor energi sangat dinantikan.

Dewi Aryani melihat, selain penyebaran distribusi BBM bersubsidi yang lebih tepat sasaran dan kebocoran-kebocoran di tangani secara serius, pemerintah harus segera membuat peraturan dan diberlakukan disemua kementerian bahwa semua kebijakan harus menempatkan ketersediaan sumber energi sebagai indikator penentuan jenis dan tujuan kebijakan di semua kementrian.

Dewi Aryani juga menilai jika hal ini akan menjadi mesin penggerak penghematan nasional sekaligus pengembangan energi terbarukan sebagai pilar kedaulatan energi Indonesia ke depan. Jika semua berjalan dengan baik dan serius di tangani secara langsung impor BBM menjadi berkurang dengan sendirinya.

"Mafia migas juga harus segera di investigasi. Jangan hanya gertak saja tapi segera lakukan investigasi dan audit menyeluruh terkait oil trading selama ini, siapa pemain dan siapa 'bermain' tentu bisa terkuak dengan gamblang," tandas dia. [Cesare]
 

Tags:

BAGIKAN


  • Rating artikel: star goldstar goldstar goldstar goldstar gold (1 rates)
    Rating
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar bwstar bwstar bwstar bw
    • star goldstar goldstar gold
    KOMENTAR SERUU